KENAPA YESUS DISEBUT PUTRA ALLAH

Y5YYYYYEYYEY

Allah tidak mempunyai anak melalui seorang istri harfiah. Tetapi, Ia adalah Pencipta segala kehidupan. (Penyingkapan [Wahyu] 4:11) Karena itu, manusia pertama yang Allah ciptakan, Adam, disebut ”putra Allah”. (Lukas 3:38) Demikian pula, Alkitab mengajarkan bahwa Yesus diciptakan oleh Allah. Jadi, Yesus juga disebut ”Putra Allah”.—Yohanes 1:49.

Allah menciptakan Yesus sebelum Ia menciptakan Adam. Mengenai Yesus, rasul Paulus menulis, ”Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari antara semua ciptaan.” (Kolose 1:15) Kehidupan Yesus dimulai lama sebelum ia dilahirkan di sebuah kandang di Betlehem. Malah, Alkitab mengatakan bahwa ”asal-usulnya sejak purbakala, sejak zaman lampau yang tidak tertentu”. (Mikha 5:2) Sebagai Putra sulung Allah, Yesus adalah makhluk roh di surga sebelum ia dilahirkan sebagai manusia di bumi. Yesus sendiri mengatakan, ”Aku telah turun dari surga.”—Yohanes 6:38; 8:23.

Iklan

Yesus Menolongmu

 

 

 

 

 

 

“Ma, kalau aku nanti mati, apakah mama janji akan tetap pergi menceritakan tentang Yesus kepada keluargaku?”

Langkahku untuk keluar kamar itu terhenti sejenak. Aku menahan napas mendengar ucapan penuh harap dari anak remaja bernama Victor itu. Tak bisa menahan rasa ingin tahuku, aku menoleh ke arah mereka. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat pipi wanita yang dipanggilnya “mama” itu basah oleh air mata.

“Mama sungguh-sunguh mau janji?” desak Victor lagi.

Aku meninggalkan kamar Victor dengan mata berkaca-kaca. Membawa nampan berisi peralatan bekas makan pasien muda itu ke belakang. Lalu kembali ke meja kerjaku. Aku bisa merasakan betapa Victor sangat mencintai keluarganya, meski mereka dulu tidak bisa merawatnya dengan baik. Aku sendiri belum bisa memaafkan orangtuaku. Mereka merawatku dengan baik. Namun, aku merasa mereka tidak mendukung pilihan-pilihanku. Aku sakit hati dengan banyak perkataan mereka. Entah dari mana Victor bisa punya kekuatan untuk mengampuni kedua orangtua yang sudah menelantarkannya. Ia tidak menjadi pahit hati dengan apa yang ia alami. Ia bahkan berkata, Tuhan sendiri yang telah mengatur agar ia bisa bertemu dengan keluarga angkatnya, dan bisa mengenal Yesus melalui mereka. Victor sangat ingin mencari di mana keluarga kandungnya tinggal sekarang. Ia ingin menceritakan tentang Yesus kepada mereka. Kalau saja ia cukup sehat, tentu ia sudah pergi sendiri menemui keluarga kandungnya.

Yesus. Aku sering mendengar kisah-Nya waktu aku masih kecil. Ibuku sering membawaku ke sekolah minggu. Tetapi, sejak aku beranjak remaja, aku sendiri tidak pernah melihat ibu pergi ke gereja. Katanya ia kecewa dengan beberapa pengurus di gereja dan merasa lebih baik jika tidak bertemu dengan mereka lagi. Lagipula ia harus merawat ayahku yang saat itu mengalami kecelakaan dan harus kehilangan sebelah kakinya. Aku kadang-kadang berdoa kepada Yesus. Guru sekolah mingguku mengatakan bahwa Yesus itu berkuasa menyembuhkan orang sakit, meredakan angin ribut, dan pasti sanggup juga menolong semua orang yang berseru pada-Nya. Namun, aku merasa doaku tidak pernah dijawab. Yesus tidak menyembuhkan ayahku dan tidak meredakan badai dalam keluargaku.

“Selamat sore, Suster Kim,” beberapa anak muda menyapaku berbarengan. Aku menyeka sudut mataku yang basah.
“Hai, kalian datang lagi!” sahutku sambil berusaha tersenyum lebar.
“Victor tidak sedang tidur kan?” tanya pemuda yang paling tinggi. Sepertinya ia adalah pemimpin kelompok mereka. Ia membawa sebuah Alkitab di tangan kanannya dan sebuah gitar di tangan kirinya.
“Tidak. Victor lagi ngobrol dengan mamanya. Silakan masuk saja ke kamar.”

Sebentar kemudian alunan lagu pujian terdengar dari kamar itu, menghangatkan hatiku yang dingin, sekaligus membuatku harus menarik napas berkali-kali untuk mencegah air mataku tumpah. Aku belum pernah melihat anak-anak seusia mereka yang begitu bersemangat dengan imannya. Victor baru berusia empatbelas tahun. Anak-anak muda yang lain aku rasa usianya tidak terpaut jauh dari itu. Mereka dengan setia datang mengunjungi Victor untuk membaca Alkitab, menyanyikan pujian kepada Tuhan, dan berdoa bersama. Aku juga punya sebuah Alkitab. Ada masanya aku suka membaca beberapa ayat yang diajarkan di sekolah minggu.

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”

“Janganlah takut … janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau …”

“Tuhan itu pengasih dan penyayang …”

“Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau …”

Betapa indahnya jika bisa mengalami apa yang dikatakan ayat-ayat itu. Sudah terlalu lama aku tidak lagi membaca Alkitab, karena aku merasa semua janji indah di dalamnya hanya berlaku untuk orang-orang tertentu, tidak untukku. Sampai Victor datang di bangsal ini. Anak usia empat belas tahun yang sudah harus menjalani kemoterapi berkali-kali karena kanker tulang yang dideritanya. Melihat hidup Victor, aku merasa masalahku sebenarnya tidak ada apa-apanya. Victor bahkan tidak pernah tahu pasti berapa lama bisa bertahan hidup. Namun, sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat dariku. Ia tidak menyalahkan situasi yang menimpanya. Ia percaya bahwa Tuhan mengizinkan segala sesuatu terjadi dan dapat memakai situasi apa pun untuk membawa kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya. Sementara, aku merasa bahwa aku selalu bernasib sial dan Tuhan tidak pernah peduli dengan semua yang kualami.

Saat anak-anak muda itu berpamitan pulang, sayup aku mendengar Victor berkata dengan suaranya yang khas, “Sampai jumpa di surga!” Bukan sekali dua kali aku mendengarnya mengucapkan kalimat perpisahan itu dengan penuh kemantapan. Aku tahu betul ia tidak sedang putus asa dengan penyakitnya hingga ingin segera mengakhiri hidup. Sebaliknya, ia adalah pasien paling tangguh yang pernah kutemui. Ia sangat kooperatif dalam menjalani terapi. Ia punya keinginan yang besar untuk sembuh, karena ia ingin menemui orangtua kandungnya dan menceritakan tentang Yesus kepada mereka. Namun, pada saat yang sama, ia sangat siap jika Tuhan memanggilnya pulang. Matanya berbinar-binar tiap kali menceritakan tentang tempat yang indah dan tubuh yang bebas penyakit, yang dijanjikan Tuhan dalam Alkitab. Mau tak mau hatiku bergetar mendengarnya.

“Bagaimana? Kalian menikmati waktu-waktu bersama Victor?” tanyaku sambil sekali lagi berusaha menampilkan senyum paling manis.
“Iya! Kami selalu merasa dikuatkan setiap bertemu Victor,” kata pemuda yang membawa Alkitab.
“Tuhan kiranya juga menguatkan Suster ….” lanjutnya sambil menjabat hangat tanganku sebelum pulang.

Kekuatan dari Tuhan. Ya, betapa aku membutuhkannya. Benarkah Yesus, yang dipercayai Victor dan teman-temannya itu dapat menyembuhkan rasa kecewa di hatiku? Siapakah Dia sesungguhnya? Pernahkah kamu sendiri mengalami bagaimana Yesus menolongmu mengatasi kekecewaan dalam hidup ini?

KENAPA YESUS DISEBUT PUTRA ALLAH

Y5YYYYYEYYEY

Allah tidak mempunyai anak melalui seorang istri harfiah. Tetapi, Ia adalah Pencipta segala kehidupan. (Penyingkapan [Wahyu] 4:11) Karena itu, manusia pertama yang Allah ciptakan, Adam, disebut ”putra Allah”. (Lukas 3:38) Demikian pula, Alkitab mengajarkan bahwa Yesus diciptakan oleh Allah. Jadi, Yesus juga disebut ”Putra Allah”.—Yohanes 1:49.

Allah menciptakan Yesus sebelum Ia menciptakan Adam. Mengenai Yesus, rasul Paulus menulis, ”Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari antara semua ciptaan.” (Kolose 1:15) Kehidupan Yesus dimulai lama sebelum ia dilahirkan di sebuah kandang di Betlehem. Malah, Alkitab mengatakan bahwa ”asal-usulnya sejak purbakala, sejak zaman lampau yang tidak tertentu”. (Mikha 5:2) Sebagai Putra sulung Allah, Yesus adalah makhluk roh di surga sebelum ia dilahirkan sebagai manusia di bumi. Yesus sendiri mengatakan, ”Aku telah turun dari surga.”—Yohanes 6:38; 8:23.

PERCAYALAH YESUS AKAN MENOLONGMU

“Ma, kalau aku nanti mati, apakah mama janji akan tetap pergi menceritakan tentang Yesus kepada keluargaku?”

Langkahku untuk keluar kamar itu terhenti sejenak. Aku menahan napas mendengar ucapan penuh harap dari anak remaja bernama Victor itu. Tak bisa menahan rasa ingin tahuku, aku menoleh ke arah mereka. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat pipi wanita yang dipanggilnya “mama” itu basah oleh air mata.

“Mama sungguh-sunguh mau janji?” desak Victor lagi.

Aku meninggalkan kamar Victor dengan mata berkaca-kaca. Membawa nampan berisi peralatan bekas makan pasien muda itu ke belakang. Lalu kembali ke meja kerjaku. Aku bisa merasakan betapa Victor sangat mencintai keluarganya, meski mereka dulu tidak bisa merawatnya dengan baik. Aku sendiri belum bisa memaafkan orangtuaku. Mereka merawatku dengan baik. Namun, aku merasa mereka tidak mendukung pilihan-pilihanku. Aku sakit hati dengan banyak perkataan mereka. Entah dari mana Victor bisa punya kekuatan untuk mengampuni kedua orangtua yang sudah menelantarkannya. Ia tidak menjadi pahit hati dengan apa yang ia alami. Ia bahkan berkata, Tuhan sendiri yang telah mengatur agar ia bisa bertemu dengan keluarga angkatnya, dan bisa mengenal Yesus melalui mereka. Victor sangat ingin mencari di mana keluarga kandungnya tinggal sekarang. Ia ingin menceritakan tentang Yesus kepada mereka. Kalau saja ia cukup sehat, tentu ia sudah pergi sendiri menemui keluarga kandungnya.

Yesus. Aku sering mendengar kisah-Nya waktu aku masih kecil. Ibuku sering membawaku ke sekolah minggu. Tetapi, sejak aku beranjak remaja, aku sendiri tidak pernah melihat ibu pergi ke gereja. Katanya ia kecewa dengan beberapa pengurus di gereja dan merasa lebih baik jika tidak bertemu dengan mereka lagi. Lagipula ia harus merawat ayahku yang saat itu mengalami kecelakaan dan harus kehilangan sebelah kakinya. Aku kadang-kadang berdoa kepada Yesus. Guru sekolah mingguku mengatakan bahwa Yesus itu berkuasa menyembuhkan orang sakit, meredakan angin ribut, dan pasti sanggup juga menolong semua orang yang berseru pada-Nya. Namun, aku merasa doaku tidak pernah dijawab. Yesus tidak menyembuhkan ayahku dan tidak meredakan badai dalam keluargaku.

“Selamat sore, Suster Kim,” beberapa anak muda menyapaku berbarengan. Aku menyeka sudut mataku yang basah.
“Hai, kalian datang lagi!” sahutku sambil berusaha tersenyum lebar.
“Victor tidak sedang tidur kan?” tanya pemuda yang paling tinggi. Sepertinya ia adalah pemimpin kelompok mereka. Ia membawa sebuah Alkitab di tangan kanannya dan sebuah gitar di tangan kirinya.
“Tidak. Victor lagi ngobrol dengan mamanya. Silakan masuk saja ke kamar.”

Sebentar kemudian alunan lagu pujian terdengar dari kamar itu, menghangatkan hatiku yang dingin, sekaligus membuatku harus menarik napas berkali-kali untuk mencegah air mataku tumpah. Aku belum pernah melihat anak-anak seusia mereka yang begitu bersemangat dengan imannya. Victor baru berusia empatbelas tahun. Anak-anak muda yang lain aku rasa usianya tidak terpaut jauh dari itu. Mereka dengan setia datang mengunjungi Victor untuk membaca Alkitab, menyanyikan pujian kepada Tuhan, dan berdoa bersama. Aku juga punya sebuah Alkitab. Ada masanya aku suka membaca beberapa ayat yang diajarkan di sekolah minggu.

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”

“Janganlah takut … janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau …”

“Tuhan itu pengasih dan penyayang …”

“Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau …”

Betapa indahnya jika bisa mengalami apa yang dikatakan ayat-ayat itu. Sudah terlalu lama aku tidak lagi membaca Alkitab, karena aku merasa semua janji indah di dalamnya hanya berlaku untuk orang-orang tertentu, tidak untukku. Sampai Victor datang di bangsal ini. Anak usia empat belas tahun yang sudah harus menjalani kemoterapi berkali-kali karena kanker tulang yang dideritanya. Melihat hidup Victor, aku merasa masalahku sebenarnya tidak ada apa-apanya. Victor bahkan tidak pernah tahu pasti berapa lama bisa bertahan hidup. Namun, sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat dariku. Ia tidak menyalahkan situasi yang menimpanya. Ia percaya bahwa Tuhan mengizinkan segala sesuatu terjadi dan dapat memakai situasi apa pun untuk membawa kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya. Sementara, aku merasa bahwa aku selalu bernasib sial dan Tuhan tidak pernah peduli dengan semua yang kualami.

Saat anak-anak muda itu berpamitan pulang, sayup aku mendengar Victor berkata dengan suaranya yang khas, “Sampai jumpa di surga!” Bukan sekali dua kali aku mendengarnya mengucapkan kalimat perpisahan itu dengan penuh kemantapan. Aku tahu betul ia tidak sedang putus asa dengan penyakitnya hingga ingin segera mengakhiri hidup. Sebaliknya, ia adalah pasien paling tangguh yang pernah kutemui. Ia sangat kooperatif dalam menjalani terapi. Ia punya keinginan yang besar untuk sembuh, karena ia ingin menemui orangtua kandungnya dan menceritakan tentang Yesus kepada mereka. Namun, pada saat yang sama, ia sangat siap jika Tuhan memanggilnya pulang. Matanya berbinar-binar tiap kali menceritakan tentang tempat yang indah dan tubuh yang bebas penyakit, yang dijanjikan Tuhan dalam Alkitab. Mau tak mau hatiku bergetar mendengarnya.

“Bagaimana? Kalian menikmati waktu-waktu bersama Victor?” tanyaku sambil sekali lagi berusaha menampilkan senyum paling manis.
“Iya! Kami selalu merasa dikuatkan setiap bertemu Victor,” kata pemuda yang membawa Alkitab.
“Tuhan kiranya juga menguatkan Suster ….” lanjutnya sambil menjabat hangat tanganku sebelum pulang.

Kekuatan dari Tuhan. Ya, betapa aku membutuhkannya. Benarkah Yesus, yang dipercayai Victor dan teman-temannya itu dapat menyembuhkan rasa kecewa di hatiku? Siapakah Dia sesungguhnya? Pernahkah kamu sendiri mengalami bagaimana Yesus menolongmu mengatasi kekecewaan dalam hidup ini?